Wednesday, November 11, 2009

DUKUNG CICAK APA BUAYA?

Ketika saya online di sebuah situs Jejaring sosial, kalau boleh saya bilang di Facebook, ada pesan dari seorang teman yang bertanya, "mas Mudhy dukung Cicak apa Buaya?" sayapun menjawab dengengan asal asalan "waduh lha pilihan lurah ditempatku gambar'e Jagung sama Padi jwe".
Sebenarnya ada alasan tersendiri kenapa saya menjawab demikian, Ya Karena saya tidak mendukung Cicak maupun Buaya, saya merasa bukan urusan dan bidang saya. Saya juga tidak begitu mengerti kronologi permasalahanya dan apa yang dipermasalahkan, Jadi daripada memperkeruh keadaan lebih baik saya diam. Biarlah mereka yang ahli dibidang itu dan yang berwenang melakukan tugasnya masing masing. Jika saya mendukung salah satu saya takut kalau itu hanya karena saya tidak menyukai kinerja institusi tertentu saja.
Menurut saya Cicak Vs Buaya bukanlah kampanye yang mencari dukungan, Cicak Vs Buaya bukan pertandingan Olahraga yang mencari pemenang. tapi Cicak vs Buaya adalah pengungkapan sebuah kebenaran, dan kebenaran itu tidak tergantung berapa banyak pendukung.
Jadi buat Mas yang kemarin ngajak saya bergabung di sebuah grup pendukung Cicak ataupun buaya, maaf saya tidak bisa bergabung, saya cukup jadi pendukung PSIM saja.

Wednesday, October 28, 2009

Sumpah Pemuda

Sumpah Pemudamerupakan hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia pada Kongres Pemuda II, dibacakan pada 28 Oktober 1928. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai "Hari Sumpah Pemuda".
Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres.
Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Moh.Yamin.

Karena sudah 81 tahun lalu mungkin banyak diantara kita yang lupa isi sumpah pemuda. Agar tidak isi sumpah pemuda mari kita baca skali lagi
Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Pada kesempatan itu pula untuk pertama kalinya lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman dikumandangkan.

Kini setelah 81 tahun berlalu banyak diantara kita yang 'kelupaan' dengan momen tersebut. Mungkin sebagian lupa akan sumpah pemuda atau lupa teks sumpah pemuda, bahkan yang lebih parah lupa syair lagu Indonesia Raya atau lebih tragis lagi lupa menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam sidang paripurna DPR.
Memang lupa adalah penyakit yang tidak ada obatnya. Tapi apakah kita boleh melupakan rasa Nasionalisme? Apakah ada alasan untuk melupakan rasa persatuan?

Indonesia mempunyai Ragam bahasa, kebudayaan, suku bahkan agama, tapi bahasa Nasional tetap satu Bahasa Indonesia, bendera tetap 1 Merah Putih, Bangsa kita pun tetap Bangsa Indonesia. Kita semua satu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia